Sabtu, 16 Februari 2013

Hakekat Perbedaan Individu Dalam Hal Kemampuan Pembelajaran


                     Hakekat Perbedaan Individu Dalam Hal Kemampuan Pembelajaran
                                                                       Oleh: Satriyo Pamungkas
  
a. Hakekat Individu
            Individu atau manusia memiliki perbedaan kedudukan yang paling tinggi di antara mahkluk ciptaan tuhan lainnya. individu manusia ini memiliki sifat hakekat yang merupakan karakteristik  dan mempunyai akal yang membedakan individu itu berbeda dengan makhluk lainnya bahkan individu lainnya.
            Manusia sejak dahulu sudah menjadi bahan pembicaraan manusia itu sendiri karena keunikannya. Unik dalam arti sisi fisik dan jiwanya. Maka wajar karena kompleksitas keunikannya itulah sampai saat ini hanya dapat menduga-duga. Kalaupun kajian bersifat ilmiah, konklusinya tidak dapat serta merta diproklamasikan sebagi sumber informasi primer yang benar secara generik.
Dikatakan demikian karena manusia benar-benar unik karena tidak ada dua individu yang identik, walaupun kedua individu tersebut kembar. Apalagi jika manusia ini diteliti dengan mengkomparisasikannya dengan hewan atau makhluk lain. Manusia sebagai makhluk berakal, makhluk lain. manusia sebagai makhluk berakal, makhluk berpikir, mahkluk sosial, beradab, berperasaan, dan sekaligus mahkluk individu.
Individu perserta didik memiliki cara-cara yang berbeda dalam memahami informasi dalam proses pembelajaran. Perbedaan ini tergantung pada teori belajar yang lebih disukai. Terdapat tiga komponen utama dari yang dapat mempengaruhi kemampuannya dalam proses pembelajaran, yaitu gaya belajar merupakan faktor koqnitif atau pengetahuan individu, efektif atau sikap, dan lingkungan belajar seperti suhu ruangan, jumlah keanggotaan, dan dukungan emosi (Munir, 2008:159)
Perbedaan individu ini disebut perbedaan individual. Maka perbedaan dalam perbedaan individual menurut Landgren (1980:578) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun aspek psikologis. Sementara Gerry 1963 (Oxendine, 1984:317) mengkatagorikan perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut:
a. Perbedaan fisik, usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan dan kemampuan bertindak.
b. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga dan suku.
c.  Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
d.  Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.
e. Perbedaan kecakapan atau kepandaian disekolah.
Aspek perbedaan individu dalam pendidikan berikut ini akan diuraikan secara singkat tentang aspek-aspek perbedaan individu yang mendasari pendidikan. Yaitu:
1. Aspek biologi prilaku manusia pada hakekatnya dipengaruhi oleh interaksinya dengan lingkungan (empiris), dan faktor ketururnan (hereditas).
2. Aspek intelektual (kognitif) selain perbedaan biologis, setiap individu memiliki perbedaan intelektual.
3. Aspek psikologis ada dua komponen mendasar yang membedakan individu secara psikologis dalam dunia ilmu pendidikan, yaitu minat dan kemadirian. Minat sangat berkaitan dengan masalah bahan ajar, alat ajar, situasi, kondisi, serta guru. Sedangkan kemandirian seseorang bergantung pada upaya membebaskan diri dari ketergantungan pada bantuan orang lain, menumbuhkan keberanian, dan rasa percaya diri.
Sementara sifat hakekat manusia menjadi kajian antropologi, yang hasilnya sangat diperlukan dalam upaya menumbuh kembangkan potensi, manusia melalui penyelenggaraan pendidikan. sifat hakekat manusia merupakan ciri-ciri yang karakteristik, yang secara principal membedakan manusia dengan hewan, walaupun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama secara biologis (lihat orang hutan). Karenanya banyak filsuf menamakan manusia identik dengan hewan seperti: Socrates, menyebut manusia Zoon Politico (hewan yang bermasyarakat); Max Schaller ; menyebutkan : Das Krantetier (Hewan Yang Selalu Bermasalah); demikian pula Charles Darwin dengan teori evolusinya telah membuktikan bahwa manusia berasal dari kera (Primat) tetapi dia gagal yang disebutnya dengan The Missing Link. Sementara wujud sifat Manusia, a). Kemampuan menyadari diri. Dengan kemampuan menyadari diri maka manusia dapat membedakan dirinya dengan manusia lain (ia, mereka) dan dengan lingkungan non manusia (fisik). Manusia dapat membuat jarak dengan manusia lain dan lingkungannya. Manusia memiliki arah pandangan kedalam dan keluar. Pandangan arah kedalam, akan memberi status lingkungan sebagai subyek berhadapan dengan aku sebagai obyek. (Penting untuk pengembangan sosial). Pandangan arah keluar, memandang lingkungan sebagai obyek, aku sebagai obyek yang memanipulasikan lingkungan untuk aku, berpuncak pada egoisme. (Penting untuk pengembangan individualitet). Dalam pendidikan kedua arah tersebut harus dikembangkan secra seimbang.
            Dalam konteks pendidikan, Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) prilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan, yakni: (1) kawasan kognitif, (2) kawasan afektif, (3) kawasan psikomotor. Taksonomi prilaku diatas menjadi rujukan penting dalam proses pendidikan, terutama kaitanya dengan usaha dan hasil pendidikan.
Dalam hal ini kemampuan siswa sangat dipengaruhi oleh tiga komponen yang saling terkait dalam proses pembelajaran. Selain itu perbedaan kemampuan dalam proses pembelajaran masih ada yang mempengaruhinya, yaitu motivasi, dan bagaimana belajar yang efektif. Individu siswa sebaiknya mengetahui juga dalam hal ini.
            Banyak siswa atau mahasiswa gagal atau tidak mendapatkan hasil yang baik dalam pelajarannya, mereka kebanyakan hanya mencoba menghafal pelajaran. Seperti di ketahui, belajar itu sangat kompleks. Belum diketahui segala bentuk-bentuknya. Kemampuan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kecakapan dan ketangkasan belajar berbeda secara individual. Walaupun demikian kita dapat membantu siswa dengan memberi petunjuk-petunjuk umum tentang cara-cara belajar yang efisien. Ini tidak berarti bahwa mengenal petunjuk-petunjuk dengan sendirinya akan menjamin sukses siswa. Sukses hanya tercapai berkat usaha keras. Tanpa usaha tak akan tercapai sesuatu ( Slameto, 2010: 73).
            Dalam hal pembelajaran motivasi sangat mempengaruhi hasil belajar siswa dan kemampuan belajarnya. Menurut Slameto (2010:26) motivasi berasal dari kata motif (Achievement Motivation) yang didalamnya terdiri Dari dorongan kognitif, harga diri, dan kebutuhan berafilitasi. Oleh sebab itu Budingsih (2008:15) agar retensi meningkat, maka mulailah dengan menampilkan kerangka isi/ materi pelajaran, baru kemudian secara bertahap mengelaborasi bagian-bagian yang ada dalam kerangka isi tersebut dan secara tetap mengaitakn setiap tahapan elaborasi pada kerangka isi. Dengan kata lain, teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologi dalam diri si belajar, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan si belajar dengan proses-proses psikologi dalam diri si belajar. Atau, teori belajar mengungkapkan hubungan antara fenomena yang yang ada dalam diri si belajar.
            Dijelaskan oleh Landa (dalam Degeng 1989) bahwa “ The major difference between them (instructional theory and learning theory) is that instructional theories….deal with relationships, between teacher’s-or teaching-actions as cause and students’ psychological and/or behavioral processes as effect (outcomes), whereas learning theories…. Deal with relationships between learner’s-or learning-actions as causes and psychological or behavioral processes as effect (outcomes). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar