Jambi pada masa Budha
Menyebarnya agama Budha di nusantara ini sejalan dengan masuknya pengaruh Budha di Nusantara sejalan dengan masuknya pengaruh Budaya India di negri kepulauan ini. Tidak ada satupun sumber tertulis yang sampai kepada kita yang menyebutkan kapan pengaruh agama india ini masuk, siapa yang membawanya apakah para saudagar atau para biksu yang ikut dalam pelayaran saudagar india ini ( bambang budi utomo, 2010,budha di nusantara,Buddhist education center, iii ). Para saudagar dari kedua bangsa ini terikat dengan hubungan dagang internasionalnya. Tidak luput juga penyebaran agama ini di lakukan oleh para saudagar nusantar yang melakukan perniagaan di India dan mengajarkannya ketika mereka sudah berada di nusantara dimana mereka tinggal, karena para saudagar ini mempunyai harta dan tanah yang mana menjadi salah satu kekayaan pada masanya.
Agama merupakan salah satu unsure kebudayaan. Ada dua agama yang masuk dalam budaya india, yaitu Hindu dan Budha. Sumber prasasti tertua dari sekitar abad ke 5-6 Masehi, mengindikasikan awal agama yang ada di nusantara adalah agama Hindu aliran Waisnawa. Keadaan ini di perjelas lagi oleh catatan fa-hsien, seorang biksu asal tiongkok yang mengatakan bahwa yi-po-ti sedikit sekali di jumpai orang-orang beragama buhda, tetapi banyak di jumpai orang brahmana dan mereka yang agamanya buruk( ibid ).
Sampai pada abad ke-7 seorang biksu yang berasal dari tiongkok ( i-tsing ) berkunjung ke shi-li-fi-shi yang di yakini para sejarawan adalah Sriwijaya. Dala perjalanannya ke nusantara ia melewati mo-lo-yeu sendiri di akui sebagai kerajaan melayu yang berada di kota jambi sekarang dan shi-li-fo-shi. Dalam catatanya hariannya ia mencatat ada sekitar lebih dari 1000 biksu tinggal di shi-li-fo-shi, juga anjuran untk para biksu, sebelum melanjutkan pelajaranya di Nalanda ( India ) terlebih dahulu singgah di shi-li-fo-shi untuk memperdalam tatabahasa sangsekerta ( ibid ).
Lain Sriwijaya lain pula dengan mataram, tetapi Cuma satu penguasa yaitu Dinasti Syailendra yang agama di anutnya Budha Mahayana, kalu penguasa di mataram banyak mendirikan bangunan suci, sedangkan di sriwijaya tidak, walaupun ada itu hanya terbuat dari bahan bata, dan arca Mahayana yang seperti Boddhisatwa, wajrapani, lokanata, awalokiteswara, dan padmapan) inilah yang di temukan di wilayah kerajaan sriwijaya di Sumatra, sedangkan kalau di mataram banyak di temuka bangunan suci.
Diterimanya ajaran ini di nusantara karena dalam ajaran budha yang utama adalah welas asih dan menolong semua mahkluk sebagaimana tercermin dalam Boddhisatwa. Karena ajaran welas asih inilah agama budha sangat cepat di terima oleh penduduk nusantara, dan ajaran welas asih ini mengakar ke pengaruhnya baik di jawa, Sumatra maupun di semenanjung tanah melayu ( ibid iv )
Selasa, 31 Mei 2011
Senin, 30 Mei 2011
Kerajaan Melayu
KERAJAAN MELAYU
Berbicara tentang penamaan”kuno “ dalam istilah melayu kuno, seseorang dapat salah mengerti tentang arti sesungguhnya pemberian nama. Biasanya Moloyu ( melayu ) dan Sriwijaya di anggap sebagai kerajaan-kerajaan melayu kuno. Setelah jatuhnya kerajaan sriwijaya di abad ke-14 wilayah kerajaan-kerajaan melayu kuno mendapat berbagai cobaan dari bangsa penjaja dari luar, terutama dari bangsa ingris dan belanda. Hingga abad tahun 1824. Pada tahun ini oleh traktat London wilayah yang dihuni oleh pihak melayu di bagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara yang meliputi wilayah semenanjung melayu dan singgapura di kuasai oleh inggris dan pantai timur Sumatra serta riau lautan menjadi jajahan belanda ( S. Sartono. 7-8 desember 1992. Kerajaan melayu kuno pra-sriwijaya di Sumatra. Seminar sejarah melayu kuno. Kerja sama tingkat I provinsi jambi dengan kantor wilayah DEPDIKBUD provinsi Jambi).
Wilayah kerajaan melayu secara geografis terletak di sekitar daerah aliran sungai Batanghari yang meliputi provinsi jambi dan provinsi Sumatra barat, di sekitar kabupaten tanah datar ( Pagarruyung ) dan di sekitar aliran sungai rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah provinsi Sumatra barat dan provinsi Riau. Di beberapa tempat, di tepian sungai Batanghari banyak di temukan arkeologi, mulai dari daerah ilir ( di wilayah provinsi Jambi ) hingga daerah Hulu ( di wilayah provinsi Sumatra barat ) ( bambang budi utomo, 2010. Budha di nusantara. Buddhis center. Hal 48).
Menurut salah seorang penganut kepercayaan budha yang telah berkunjung ke situs peninggalan agama budha di dunia mengungkapkan, di wilayah jambi merupakan pusat pendidikan ajaran agama budha yang menjadikannya sebagai kampus terbesar di dunia. Kunjungannya ke Tibet dimana dia mendapatkan bahwa biksu perempuan ternama yang bernama Attisa pernah berkunjung ke kerajaan melayu pada abad ke 11 dari india ke Tibet hingga ke Indonesia yaitu Sumatra untuk menjadi pengajar atau guru dalam agama budha( Dr. Elizabet.dalam seminar jambi heritage ). Banyaknya di temukan candi-candi di muara jambi di akuinya itu sebagai tempat pelaksanaan pendidikan bukan tempat ajaran agama, karena menurutnya tidak mungkin di bangun tempat suci yang berdekatan bahkan ada yang beradap-adapan. ( biksu asal cina,chiaw-fo, perbincangan dalam perjalanan ke candi muara jambi,seminar jambi heritage).
Pada tahun 672 M, dalam perjalanannya dari kanton ke India, it-shing singgah di shih-li-fo-shih ( sriwijaya ) selama 6 bulan untuk belajar tatabahasa, bahasa sangsekerta sebelum melanjutkan pelayarannya ke cieh-cha ( kedah ) dan menuju ke nelada ( india ). Selanjutnya itsing menuliskan bahwa sekembalinya dari nelanda pada tahun 685 M ia singgah di mo-lo-yeu yang sekarang menjadi fo-she-to. Berita itsing ini sesuai dengan isi prasasti karangbirahi yang ditemukan di tepi sungai merangin anak Batanghari di daerah hulu, menyebutkan tentang persumpahan bagi yang tidak mau tunduk kepada kedatuan sriwijaya. Kedua data ini menginformasikan bahwa pada waktu itu melayu telah di taklukan oleh sriwijaya sampai sekitar abad ke-13 masehi. Pendudukan sriwijaya terhadap melayu di anggap penting karena dengan menduduki melayu, sriwijaya dapat menguasai Bandar-bandar di daerah selat malaka. Hal sama juga di lakukan ke daerah lain seperti, kota kapur ( Bangka ), bhumi jawa, serta palas dan jabung ( lampung ) ( ibid. bambang.hal 50 ).
Permukiman yang tertua berlokasi di daerah hilir Batanghari, sedangkan pemukiman yang muda berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Sumatra barat. Dalam sejarah Batanghari di wilayah ini pernah ada dua kerajaan besar yang berpengaruh di belahan barat Nusantara. Kedua kerajaan itu adalah Melayu dan Sriwijaya yang tumbuh berkembang pada waktu yang bersamaan dari berita tionghoa yang di tulis it-shing di sebutkan bahwa suatu saat ( sekitar tahun 670 an ) melayu pernah menjadi bagian sriwijaya ( groneveldt 1960 ) setelah sriwijaya melemah, melayu kemudian merdeka kembali.
Berdasarkan berita tionghoa tersebut, hasan jafar ( 1992:77 ) membagi melayu dalam tiga fase :
1. Fase awal, sekitar pertengahan abad ke 7 Masehi
2. Fase pendudukan oleh sriwijaya, sekitar tahun 680 sampai sekitar pertengahan abad ke-11 Masehi.
3. Fase akhir, sekitar pertengahan abad ke 11 –akhir abad ke14 Masehi.
Ketiga fase tersbut mengacu kepada perjalanan sejarah kerajaan melayu kuno, tetapi tidak menjelaskan lokasi pusat pemerintahannya.
Beberapa pakar berpendapat pusat kerajaan melayu fase awal berpusat di kota jambi sekarang ( slamet mulyana 1981:30-42 ; irfan 1983:94-102 ). Pendapat ini di dasarkan asumsi bahwa pusat kerajaan adalah juga pelabuhan melayu. Pelabuhan melayu yang berlokasi di tepi sungai Batanghari sangat lah baik untuk pelabuhann sungai dengan panjang 800 km, lebarnya 500 meter dan kedalamannya lebih dari 5 meter yang sangat baik untuk pelayaran sungai. ( ibid. bambang. Hal 49 )
Masa pendudukan sriwijaya ini agaknya berlangsung cukup lama, mulai dari abad ke 7 -11 masehi. Tetapi selama masa itu, ada juga masa dimana sriwijaya agak lengah . kesempatan itu di manfaatkan untuk mengirim duta besar ke tiongkok. Berdasarkan catatan tiongkok, mo-lo-yeu mengirim utusan ke tiongkok pada tahun 853 dan 871 masehi ( wolters: 1970-42 ). Namuntindakan ini di ketahui oleh sriwijaya. Oleh sebab itulah sriwijaya pada tahun 905 masehi mengirim duta ke tiongkok dan menegaskan bahwa duta yang dating pada tahun 853 dan 871 masehi adalah “ pemimpin dari chan-pi ( ibid. bambang,hal 52 ). Melayu merupakan sebuah kerajaan yang di anggap penting eksistensi kerajaan melayu selalu di akui oleh berbagi kerajaan. Sebab kerajaan besar di Nusantara akan selalu memperhitungkan keberadaan kerajaan melayu, seperti halnya sriwijaya dan majapahit.
Berdasarkan data prasasti dan pertanggalan situs di daerah Batanghari, kerajaan melayu sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemindahan pusat pemerintahan. Pusatnya yg pertama berlokasi di sekitar kota jambi sekarang, pusatnya yang kedua di padangroco, dan pusatnya yang ketiga terletak di pagaruyung. Para sarjan meduga pemindahan kerajaan itu di sebabkan oleh ancaman dari musuh, terutama musuh yang datng dari tanah jawa yang melalui sungai Batanghari. Sedangkan de casparis menduga melayu pada masa akhir mendapat ancaman dari kerajaan yang bercorak islam di samudrai pasai yang datang melalui sungai Batanghari ( ibid bambang hal 55 ).
Salah satu jenis peningkatan arkeologi yang tergolong ke dalam artefak bertulisan ialah prasasti. Sebagai sumber sejarah dan kebudayaan prasasti mempunyai kedudukan yang amat penting karena merupakan salah satu sumber keterangan yang sejaman. Dari masa kerajaan melayu kuno yang kronologinya dapat di tempatkan pada kurun waktu sekitar pertengahan abad ke-7 sampai abad ke-14. Telah ditemukan lebih dari 30 buah prasasti yang sebagian masuk dalam provinsi jambi, sebagian lagi masuk wilayah provinsi Sumatra barat, dan sebuah ditemukan di wilayah Malang, jawa timur yaitu prasasti Adityawarman yang di pahatkan di candi jago ( hasa jafar. Prasasti-prasasti masa kerajaan melayu kuno dan beberapa permasalahannya. Seminar sejarah melayu jambi. 6-8 desember 1992 ).
Berbicara tentang penamaan”kuno “ dalam istilah melayu kuno, seseorang dapat salah mengerti tentang arti sesungguhnya pemberian nama. Biasanya Moloyu ( melayu ) dan Sriwijaya di anggap sebagai kerajaan-kerajaan melayu kuno. Setelah jatuhnya kerajaan sriwijaya di abad ke-14 wilayah kerajaan-kerajaan melayu kuno mendapat berbagai cobaan dari bangsa penjaja dari luar, terutama dari bangsa ingris dan belanda. Hingga abad tahun 1824. Pada tahun ini oleh traktat London wilayah yang dihuni oleh pihak melayu di bagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara yang meliputi wilayah semenanjung melayu dan singgapura di kuasai oleh inggris dan pantai timur Sumatra serta riau lautan menjadi jajahan belanda ( S. Sartono. 7-8 desember 1992. Kerajaan melayu kuno pra-sriwijaya di Sumatra. Seminar sejarah melayu kuno. Kerja sama tingkat I provinsi jambi dengan kantor wilayah DEPDIKBUD provinsi Jambi).
Wilayah kerajaan melayu secara geografis terletak di sekitar daerah aliran sungai Batanghari yang meliputi provinsi jambi dan provinsi Sumatra barat, di sekitar kabupaten tanah datar ( Pagarruyung ) dan di sekitar aliran sungai rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah provinsi Sumatra barat dan provinsi Riau. Di beberapa tempat, di tepian sungai Batanghari banyak di temukan arkeologi, mulai dari daerah ilir ( di wilayah provinsi Jambi ) hingga daerah Hulu ( di wilayah provinsi Sumatra barat ) ( bambang budi utomo, 2010. Budha di nusantara. Buddhis center. Hal 48).
Menurut salah seorang penganut kepercayaan budha yang telah berkunjung ke situs peninggalan agama budha di dunia mengungkapkan, di wilayah jambi merupakan pusat pendidikan ajaran agama budha yang menjadikannya sebagai kampus terbesar di dunia. Kunjungannya ke Tibet dimana dia mendapatkan bahwa biksu perempuan ternama yang bernama Attisa pernah berkunjung ke kerajaan melayu pada abad ke 11 dari india ke Tibet hingga ke Indonesia yaitu Sumatra untuk menjadi pengajar atau guru dalam agama budha( Dr. Elizabet.dalam seminar jambi heritage ). Banyaknya di temukan candi-candi di muara jambi di akuinya itu sebagai tempat pelaksanaan pendidikan bukan tempat ajaran agama, karena menurutnya tidak mungkin di bangun tempat suci yang berdekatan bahkan ada yang beradap-adapan. ( biksu asal cina,chiaw-fo, perbincangan dalam perjalanan ke candi muara jambi,seminar jambi heritage).
Pada tahun 672 M, dalam perjalanannya dari kanton ke India, it-shing singgah di shih-li-fo-shih ( sriwijaya ) selama 6 bulan untuk belajar tatabahasa, bahasa sangsekerta sebelum melanjutkan pelayarannya ke cieh-cha ( kedah ) dan menuju ke nelada ( india ). Selanjutnya itsing menuliskan bahwa sekembalinya dari nelanda pada tahun 685 M ia singgah di mo-lo-yeu yang sekarang menjadi fo-she-to. Berita itsing ini sesuai dengan isi prasasti karangbirahi yang ditemukan di tepi sungai merangin anak Batanghari di daerah hulu, menyebutkan tentang persumpahan bagi yang tidak mau tunduk kepada kedatuan sriwijaya. Kedua data ini menginformasikan bahwa pada waktu itu melayu telah di taklukan oleh sriwijaya sampai sekitar abad ke-13 masehi. Pendudukan sriwijaya terhadap melayu di anggap penting karena dengan menduduki melayu, sriwijaya dapat menguasai Bandar-bandar di daerah selat malaka. Hal sama juga di lakukan ke daerah lain seperti, kota kapur ( Bangka ), bhumi jawa, serta palas dan jabung ( lampung ) ( ibid. bambang.hal 50 ).
Permukiman yang tertua berlokasi di daerah hilir Batanghari, sedangkan pemukiman yang muda berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Sumatra barat. Dalam sejarah Batanghari di wilayah ini pernah ada dua kerajaan besar yang berpengaruh di belahan barat Nusantara. Kedua kerajaan itu adalah Melayu dan Sriwijaya yang tumbuh berkembang pada waktu yang bersamaan dari berita tionghoa yang di tulis it-shing di sebutkan bahwa suatu saat ( sekitar tahun 670 an ) melayu pernah menjadi bagian sriwijaya ( groneveldt 1960 ) setelah sriwijaya melemah, melayu kemudian merdeka kembali.
Berdasarkan berita tionghoa tersebut, hasan jafar ( 1992:77 ) membagi melayu dalam tiga fase :
1. Fase awal, sekitar pertengahan abad ke 7 Masehi
2. Fase pendudukan oleh sriwijaya, sekitar tahun 680 sampai sekitar pertengahan abad ke-11 Masehi.
3. Fase akhir, sekitar pertengahan abad ke 11 –akhir abad ke14 Masehi.
Ketiga fase tersbut mengacu kepada perjalanan sejarah kerajaan melayu kuno, tetapi tidak menjelaskan lokasi pusat pemerintahannya.
Beberapa pakar berpendapat pusat kerajaan melayu fase awal berpusat di kota jambi sekarang ( slamet mulyana 1981:30-42 ; irfan 1983:94-102 ). Pendapat ini di dasarkan asumsi bahwa pusat kerajaan adalah juga pelabuhan melayu. Pelabuhan melayu yang berlokasi di tepi sungai Batanghari sangat lah baik untuk pelabuhann sungai dengan panjang 800 km, lebarnya 500 meter dan kedalamannya lebih dari 5 meter yang sangat baik untuk pelayaran sungai. ( ibid. bambang. Hal 49 )
Masa pendudukan sriwijaya ini agaknya berlangsung cukup lama, mulai dari abad ke 7 -11 masehi. Tetapi selama masa itu, ada juga masa dimana sriwijaya agak lengah . kesempatan itu di manfaatkan untuk mengirim duta besar ke tiongkok. Berdasarkan catatan tiongkok, mo-lo-yeu mengirim utusan ke tiongkok pada tahun 853 dan 871 masehi ( wolters: 1970-42 ). Namuntindakan ini di ketahui oleh sriwijaya. Oleh sebab itulah sriwijaya pada tahun 905 masehi mengirim duta ke tiongkok dan menegaskan bahwa duta yang dating pada tahun 853 dan 871 masehi adalah “ pemimpin dari chan-pi ( ibid. bambang,hal 52 ). Melayu merupakan sebuah kerajaan yang di anggap penting eksistensi kerajaan melayu selalu di akui oleh berbagi kerajaan. Sebab kerajaan besar di Nusantara akan selalu memperhitungkan keberadaan kerajaan melayu, seperti halnya sriwijaya dan majapahit.
Berdasarkan data prasasti dan pertanggalan situs di daerah Batanghari, kerajaan melayu sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemindahan pusat pemerintahan. Pusatnya yg pertama berlokasi di sekitar kota jambi sekarang, pusatnya yang kedua di padangroco, dan pusatnya yang ketiga terletak di pagaruyung. Para sarjan meduga pemindahan kerajaan itu di sebabkan oleh ancaman dari musuh, terutama musuh yang datng dari tanah jawa yang melalui sungai Batanghari. Sedangkan de casparis menduga melayu pada masa akhir mendapat ancaman dari kerajaan yang bercorak islam di samudrai pasai yang datang melalui sungai Batanghari ( ibid bambang hal 55 ).
Salah satu jenis peningkatan arkeologi yang tergolong ke dalam artefak bertulisan ialah prasasti. Sebagai sumber sejarah dan kebudayaan prasasti mempunyai kedudukan yang amat penting karena merupakan salah satu sumber keterangan yang sejaman. Dari masa kerajaan melayu kuno yang kronologinya dapat di tempatkan pada kurun waktu sekitar pertengahan abad ke-7 sampai abad ke-14. Telah ditemukan lebih dari 30 buah prasasti yang sebagian masuk dalam provinsi jambi, sebagian lagi masuk wilayah provinsi Sumatra barat, dan sebuah ditemukan di wilayah Malang, jawa timur yaitu prasasti Adityawarman yang di pahatkan di candi jago ( hasa jafar. Prasasti-prasasti masa kerajaan melayu kuno dan beberapa permasalahannya. Seminar sejarah melayu jambi. 6-8 desember 1992 ).
Kerajaan Melayu
KERAJAAN MELAYU
Berbicara tentang penamaan”kuno “ dalam istilah melayu kuno, seseorang dapat salah mengerti tentang arti sesungguhnya pemberian nama. Biasanya Moloyu ( melayu ) dan Sriwijaya di anggap sebagai kerajaan-kerajaan melayu kuno. Setelah jatuhnya kerajaan sriwijaya di abad ke-14 wilayah kerajaan-kerajaan melayu kuno mendapat berbagai cobaan dari bangsa penjaja dari luar, terutama dari bangsa ingris dan belanda. Hingga abad tahun 1824. Pada tahun ini oleh traktat London wilayah yang dihuni oleh pihak melayu di bagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara yang meliputi wilayah semenanjung melayu dan singgapura di kuasai oleh inggris dan pantai timur Sumatra serta riau lautan menjadi jajahan belanda ( S. Sartono. 7-8 desember 1992. Kerajaan melayu kuno pra-sriwijaya di Sumatra. Seminar sejarah melayu kuno. Kerja sama tingkat I provinsi jambi dengan kantor wilayah DEPDIKBUD provinsi Jambi).
Wilayah kerajaan melayu secara geografis terletak di sekitar daerah aliran sungai Batanghari yang meliputi provinsi jambi dan provinsi Sumatra barat, di sekitar kabupaten tanah datar ( Pagarruyung ) dan di sekitar aliran sungai rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah provinsi Sumatra barat dan provinsi Riau. Di beberapa tempat, di tepian sungai Batanghari banyak di temukan arkeologi, mulai dari daerah ilir ( di wilayah provinsi Jambi ) hingga daerah Hulu ( di wilayah provinsi Sumatra barat ) ( bambang budi utomo, 2010. Budha di nusantara. Buddhis center. Hal 48).
Menurut salah seorang penganut kepercayaan budha yang telah berkunjung ke situs peninggalan agama budha di dunia mengungkapkan, di wilayah jambi merupakan pusat pendidikan ajaran agama budha yang menjadikannya sebagai kampus terbesar di dunia. Kunjungannya ke Tibet dimana dia mendapatkan bahwa biksu perempuan ternama yang bernama Attisa pernah berkunjung ke kerajaan melayu pada abad ke 11 dari india ke Tibet hingga ke Indonesia yaitu Sumatra untuk menjadi pengajar atau guru dalam agama budha( Dr. Elizabet.dalam seminar jambi heritage ). Banyaknya di temukan candi-candi di muara jambi di akuinya itu sebagai tempat pelaksanaan pendidikan bukan tempat ajaran agama, karena menurutnya tidak mungkin di bangun tempat suci yang berdekatan bahkan ada yang beradap-adapan. ( biksu asal cina,chiaw-fo, perbincangan dalam perjalanan ke candi muara jambi,seminar jambi heritage).
Pada tahun 672 M, dalam perjalanannya dari kanton ke India, it-shing singgah di shih-li-fo-shih ( sriwijaya ) selama 6 bulan untuk belajar tatabahasa, bahasa sangsekerta sebelum melanjutkan pelayarannya ke cieh-cha ( kedah ) dan menuju ke nelada ( india ). Selanjutnya itsing menuliskan bahwa sekembalinya dari nelanda pada tahun 685 M ia singgah di mo-lo-yeu yang sekarang menjadi fo-she-to. Berita itsing ini sesuai dengan isi prasasti karangbirahi yang ditemukan di tepi sungai merangin anak Batanghari di daerah hulu, menyebutkan tentang persumpahan bagi yang tidak mau tunduk kepada kedatuan sriwijaya. Kedua data ini menginformasikan bahwa pada waktu itu melayu telah di taklukan oleh sriwijaya sampai sekitar abad ke-13 masehi. Pendudukan sriwijaya terhadap melayu di anggap penting karena dengan menduduki melayu, sriwijaya dapat menguasai Bandar-bandar di daerah selat malaka. Hal sama juga di lakukan ke daerah lain seperti, kota kapur ( Bangka ), bhumi jawa, serta palas dan jabung ( lampung ) ( ibid. bambang.hal 50 ).
Permukiman yang tertua berlokasi di daerah hilir Batanghari, sedangkan pemukiman yang muda berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Sumatra barat. Dalam sejarah Batanghari di wilayah ini pernah ada dua kerajaan besar yang berpengaruh di belahan barat Nusantara. Kedua kerajaan itu adalah Melayu dan Sriwijaya yang tumbuh berkembang pada waktu yang bersamaan dari berita tionghoa yang di tulis it-shing di sebutkan bahwa suatu saat ( sekitar tahun 670 an ) melayu pernah menjadi bagian sriwijaya ( groneveldt 1960 ) setelah sriwijaya melemah, melayu kemudian merdeka kembali.
Berdasarkan berita tionghoa tersebut, hasan jafar ( 1992:77 ) membagi melayu dalam tiga fase :
1. Fase awal, sekitar pertengahan abad ke 7 Masehi
2. Fase pendudukan oleh sriwijaya, sekitar tahun 680 sampai sekitar pertengahan abad ke-11 Masehi.
3. Fase akhir, sekitar pertengahan abad ke 11 –akhir abad ke14 Masehi.
Ketiga fase tersbut mengacu kepada perjalanan sejarah kerajaan melayu kuno, tetapi tidak menjelaskan lokasi pusat pemerintahannya.
Beberapa pakar berpendapat pusat kerajaan melayu fase awal berpusat di kota jambi sekarang ( slamet mulyana 1981:30-42 ; irfan 1983:94-102 ). Pendapat ini di dasarkan asumsi bahwa pusat kerajaan adalah juga pelabuhan melayu. Pelabuhan melayu yang berlokasi di tepi sungai Batanghari sangat lah baik untuk pelabuhann sungai dengan panjang 800 km, lebarnya 500 meter dan kedalamannya lebih dari 5 meter yang sangat baik untuk pelayaran sungai. ( ibid. bambang. Hal 49 )
Masa pendudukan sriwijaya ini agaknya berlangsung cukup lama, mulai dari abad ke 7 -11 masehi. Tetapi selama masa itu, ada juga masa dimana sriwijaya agak lengah . kesempatan itu di manfaatkan untuk mengirim duta besar ke tiongkok. Berdasarkan catatan tiongkok, mo-lo-yeu mengirim utusan ke tiongkok pada tahun 853 dan 871 masehi ( wolters: 1970-42 ). Namuntindakan ini di ketahui oleh sriwijaya. Oleh sebab itulah sriwijaya pada tahun 905 masehi mengirim duta ke tiongkok dan menegaskan bahwa duta yang dating pada tahun 853 dan 871 masehi adalah “ pemimpin dari chan-pi ( ibid. bambang,hal 52 ). Melayu merupakan sebuah kerajaan yang di anggap penting eksistensi kerajaan melayu selalu di akui oleh berbagi kerajaan. Sebab kerajaan besar di Nusantara akan selalu memperhitungkan keberadaan kerajaan melayu, seperti halnya sriwijaya dan majapahit.
Berdasarkan data prasasti dan pertanggalan situs di daerah Batanghari, kerajaan melayu sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemindahan pusat pemerintahan. Pusatnya yg pertama berlokasi di sekitar kota jambi sekarang, pusatnya yang kedua di padangroco, dan pusatnya yang ketiga terletak di pagaruyung. Para sarjan meduga pemindahan kerajaan itu di sebabkan oleh ancaman dari musuh, terutama musuh yang datng dari tanah jawa yang melalui sungai Batanghari. Sedangkan de casparis menduga melayu pada masa akhir mendapat ancaman dari kerajaan yang bercorak islam di samudrai pasai yang datang melalui sungai Batanghari ( ibid bambang hal 55 ).
Salah satu jenis peningkatan arkeologi yang tergolong ke dalam artefak bertulisan ialah prasasti. Sebagai sumber sejarah dan kebudayaan prasasti mempunyai kedudukan yang amat penting karena merupakan salah satu sumber keterangan yang sejaman. Dari masa kerajaan melayu kuno yang kronologinya dapat di tempatkan pada kurun waktu sekitar pertengahan abad ke-7 sampai abad ke-14. Telah ditemukan lebih dari 30 buah prasasti yang sebagian masuk dalam provinsi jambi, sebagian lagi masuk wilayah provinsi Sumatra barat, dan sebuah ditemukan di wilayah Malang, jawa timur yaitu prasasti Adityawarman yang di pahatkan di candi jago ( hasa jafar. Prasasti-prasasti masa kerajaan melayu kuno dan beberapa permasalahannya. Seminar sejarah melayu jambi. 6-8 desember 1992 ).
Berbicara tentang penamaan”kuno “ dalam istilah melayu kuno, seseorang dapat salah mengerti tentang arti sesungguhnya pemberian nama. Biasanya Moloyu ( melayu ) dan Sriwijaya di anggap sebagai kerajaan-kerajaan melayu kuno. Setelah jatuhnya kerajaan sriwijaya di abad ke-14 wilayah kerajaan-kerajaan melayu kuno mendapat berbagai cobaan dari bangsa penjaja dari luar, terutama dari bangsa ingris dan belanda. Hingga abad tahun 1824. Pada tahun ini oleh traktat London wilayah yang dihuni oleh pihak melayu di bagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara yang meliputi wilayah semenanjung melayu dan singgapura di kuasai oleh inggris dan pantai timur Sumatra serta riau lautan menjadi jajahan belanda ( S. Sartono. 7-8 desember 1992. Kerajaan melayu kuno pra-sriwijaya di Sumatra. Seminar sejarah melayu kuno. Kerja sama tingkat I provinsi jambi dengan kantor wilayah DEPDIKBUD provinsi Jambi).
Wilayah kerajaan melayu secara geografis terletak di sekitar daerah aliran sungai Batanghari yang meliputi provinsi jambi dan provinsi Sumatra barat, di sekitar kabupaten tanah datar ( Pagarruyung ) dan di sekitar aliran sungai rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah provinsi Sumatra barat dan provinsi Riau. Di beberapa tempat, di tepian sungai Batanghari banyak di temukan arkeologi, mulai dari daerah ilir ( di wilayah provinsi Jambi ) hingga daerah Hulu ( di wilayah provinsi Sumatra barat ) ( bambang budi utomo, 2010. Budha di nusantara. Buddhis center. Hal 48).
Menurut salah seorang penganut kepercayaan budha yang telah berkunjung ke situs peninggalan agama budha di dunia mengungkapkan, di wilayah jambi merupakan pusat pendidikan ajaran agama budha yang menjadikannya sebagai kampus terbesar di dunia. Kunjungannya ke Tibet dimana dia mendapatkan bahwa biksu perempuan ternama yang bernama Attisa pernah berkunjung ke kerajaan melayu pada abad ke 11 dari india ke Tibet hingga ke Indonesia yaitu Sumatra untuk menjadi pengajar atau guru dalam agama budha( Dr. Elizabet.dalam seminar jambi heritage ). Banyaknya di temukan candi-candi di muara jambi di akuinya itu sebagai tempat pelaksanaan pendidikan bukan tempat ajaran agama, karena menurutnya tidak mungkin di bangun tempat suci yang berdekatan bahkan ada yang beradap-adapan. ( biksu asal cina,chiaw-fo, perbincangan dalam perjalanan ke candi muara jambi,seminar jambi heritage).
Pada tahun 672 M, dalam perjalanannya dari kanton ke India, it-shing singgah di shih-li-fo-shih ( sriwijaya ) selama 6 bulan untuk belajar tatabahasa, bahasa sangsekerta sebelum melanjutkan pelayarannya ke cieh-cha ( kedah ) dan menuju ke nelada ( india ). Selanjutnya itsing menuliskan bahwa sekembalinya dari nelanda pada tahun 685 M ia singgah di mo-lo-yeu yang sekarang menjadi fo-she-to. Berita itsing ini sesuai dengan isi prasasti karangbirahi yang ditemukan di tepi sungai merangin anak Batanghari di daerah hulu, menyebutkan tentang persumpahan bagi yang tidak mau tunduk kepada kedatuan sriwijaya. Kedua data ini menginformasikan bahwa pada waktu itu melayu telah di taklukan oleh sriwijaya sampai sekitar abad ke-13 masehi. Pendudukan sriwijaya terhadap melayu di anggap penting karena dengan menduduki melayu, sriwijaya dapat menguasai Bandar-bandar di daerah selat malaka. Hal sama juga di lakukan ke daerah lain seperti, kota kapur ( Bangka ), bhumi jawa, serta palas dan jabung ( lampung ) ( ibid. bambang.hal 50 ).
Permukiman yang tertua berlokasi di daerah hilir Batanghari, sedangkan pemukiman yang muda berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Sumatra barat. Dalam sejarah Batanghari di wilayah ini pernah ada dua kerajaan besar yang berpengaruh di belahan barat Nusantara. Kedua kerajaan itu adalah Melayu dan Sriwijaya yang tumbuh berkembang pada waktu yang bersamaan dari berita tionghoa yang di tulis it-shing di sebutkan bahwa suatu saat ( sekitar tahun 670 an ) melayu pernah menjadi bagian sriwijaya ( groneveldt 1960 ) setelah sriwijaya melemah, melayu kemudian merdeka kembali.
Berdasarkan berita tionghoa tersebut, hasan jafar ( 1992:77 ) membagi melayu dalam tiga fase :
1. Fase awal, sekitar pertengahan abad ke 7 Masehi
2. Fase pendudukan oleh sriwijaya, sekitar tahun 680 sampai sekitar pertengahan abad ke-11 Masehi.
3. Fase akhir, sekitar pertengahan abad ke 11 –akhir abad ke14 Masehi.
Ketiga fase tersbut mengacu kepada perjalanan sejarah kerajaan melayu kuno, tetapi tidak menjelaskan lokasi pusat pemerintahannya.
Beberapa pakar berpendapat pusat kerajaan melayu fase awal berpusat di kota jambi sekarang ( slamet mulyana 1981:30-42 ; irfan 1983:94-102 ). Pendapat ini di dasarkan asumsi bahwa pusat kerajaan adalah juga pelabuhan melayu. Pelabuhan melayu yang berlokasi di tepi sungai Batanghari sangat lah baik untuk pelabuhann sungai dengan panjang 800 km, lebarnya 500 meter dan kedalamannya lebih dari 5 meter yang sangat baik untuk pelayaran sungai. ( ibid. bambang. Hal 49 )
Masa pendudukan sriwijaya ini agaknya berlangsung cukup lama, mulai dari abad ke 7 -11 masehi. Tetapi selama masa itu, ada juga masa dimana sriwijaya agak lengah . kesempatan itu di manfaatkan untuk mengirim duta besar ke tiongkok. Berdasarkan catatan tiongkok, mo-lo-yeu mengirim utusan ke tiongkok pada tahun 853 dan 871 masehi ( wolters: 1970-42 ). Namuntindakan ini di ketahui oleh sriwijaya. Oleh sebab itulah sriwijaya pada tahun 905 masehi mengirim duta ke tiongkok dan menegaskan bahwa duta yang dating pada tahun 853 dan 871 masehi adalah “ pemimpin dari chan-pi ( ibid. bambang,hal 52 ). Melayu merupakan sebuah kerajaan yang di anggap penting eksistensi kerajaan melayu selalu di akui oleh berbagi kerajaan. Sebab kerajaan besar di Nusantara akan selalu memperhitungkan keberadaan kerajaan melayu, seperti halnya sriwijaya dan majapahit.
Berdasarkan data prasasti dan pertanggalan situs di daerah Batanghari, kerajaan melayu sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemindahan pusat pemerintahan. Pusatnya yg pertama berlokasi di sekitar kota jambi sekarang, pusatnya yang kedua di padangroco, dan pusatnya yang ketiga terletak di pagaruyung. Para sarjan meduga pemindahan kerajaan itu di sebabkan oleh ancaman dari musuh, terutama musuh yang datng dari tanah jawa yang melalui sungai Batanghari. Sedangkan de casparis menduga melayu pada masa akhir mendapat ancaman dari kerajaan yang bercorak islam di samudrai pasai yang datang melalui sungai Batanghari ( ibid bambang hal 55 ).
Salah satu jenis peningkatan arkeologi yang tergolong ke dalam artefak bertulisan ialah prasasti. Sebagai sumber sejarah dan kebudayaan prasasti mempunyai kedudukan yang amat penting karena merupakan salah satu sumber keterangan yang sejaman. Dari masa kerajaan melayu kuno yang kronologinya dapat di tempatkan pada kurun waktu sekitar pertengahan abad ke-7 sampai abad ke-14. Telah ditemukan lebih dari 30 buah prasasti yang sebagian masuk dalam provinsi jambi, sebagian lagi masuk wilayah provinsi Sumatra barat, dan sebuah ditemukan di wilayah Malang, jawa timur yaitu prasasti Adityawarman yang di pahatkan di candi jago ( hasa jafar. Prasasti-prasasti masa kerajaan melayu kuno dan beberapa permasalahannya. Seminar sejarah melayu jambi. 6-8 desember 1992 ).
Kerajaan Melayu
KERAJAAN MELAYU
Berbicara tentang penamaan”kuno “ dalam istilah melayu kuno, seseorang dapat salah mengerti tentang arti sesungguhnya pemberian nama. Biasanya Moloyu ( melayu ) dan Sriwijaya di anggap sebagai kerajaan-kerajaan melayu kuno. Setelah jatuhnya kerajaan sriwijaya di abad ke-14 wilayah kerajaan-kerajaan melayu kuno mendapat berbagai cobaan dari bangsa penjaja dari luar, terutama dari bangsa ingris dan belanda. Hingga abad tahun 1824. Pada tahun ini oleh traktat London wilayah yang dihuni oleh pihak melayu di bagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara yang meliputi wilayah semenanjung melayu dan singgapura di kuasai oleh inggris dan pantai timur Sumatra serta riau lautan menjadi jajahan belanda ( S. Sartono. 7-8 desember 1992. Kerajaan melayu kuno pra-sriwijaya di Sumatra. Seminar sejarah melayu kuno. Kerja sama tingkat I provinsi jambi dengan kantor wilayah DEPDIKBUD provinsi Jambi).
Wilayah kerajaan melayu secara geografis terletak di sekitar daerah aliran sungai Batanghari yang meliputi provinsi jambi dan provinsi Sumatra barat, di sekitar kabupaten tanah datar ( Pagarruyung ) dan di sekitar aliran sungai rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah provinsi Sumatra barat dan provinsi Riau. Di beberapa tempat, di tepian sungai Batanghari banyak di temukan arkeologi, mulai dari daerah ilir ( di wilayah provinsi Jambi ) hingga daerah Hulu ( di wilayah provinsi Sumatra barat ) ( bambang budi utomo, 2010. Budha di nusantara. Buddhis center. Hal 48).
Menurut salah seorang penganut kepercayaan budha yang telah berkunjung ke situs peninggalan agama budha di dunia mengungkapkan, di wilayah jambi merupakan pusat pendidikan ajaran agama budha yang menjadikannya sebagai kampus terbesar di dunia. Kunjungannya ke Tibet dimana dia mendapatkan bahwa biksu perempuan ternama yang bernama Attisa pernah berkunjung ke kerajaan melayu pada abad ke 11 dari india ke Tibet hingga ke Indonesia yaitu Sumatra untuk menjadi pengajar atau guru dalam agama budha( Dr. Elizabet.dalam seminar jambi heritage ). Banyaknya di temukan candi-candi di muara jambi di akuinya itu sebagai tempat pelaksanaan pendidikan bukan tempat ajaran agama, karena menurutnya tidak mungkin di bangun tempat suci yang berdekatan bahkan ada yang beradap-adapan. ( biksu asal cina,chiaw-fo, perbincangan dalam perjalanan ke candi muara jambi,seminar jambi heritage).
Pada tahun 672 M, dalam perjalanannya dari kanton ke India, it-shing singgah di shih-li-fo-shih ( sriwijaya ) selama 6 bulan untuk belajar tatabahasa, bahasa sangsekerta sebelum melanjutkan pelayarannya ke cieh-cha ( kedah ) dan menuju ke nelada ( india ). Selanjutnya itsing menuliskan bahwa sekembalinya dari nelanda pada tahun 685 M ia singgah di mo-lo-yeu yang sekarang menjadi fo-she-to. Berita itsing ini sesuai dengan isi prasasti karangbirahi yang ditemukan di tepi sungai merangin anak Batanghari di daerah hulu, menyebutkan tentang persumpahan bagi yang tidak mau tunduk kepada kedatuan sriwijaya. Kedua data ini menginformasikan bahwa pada waktu itu melayu telah di taklukan oleh sriwijaya sampai sekitar abad ke-13 masehi. Pendudukan sriwijaya terhadap melayu di anggap penting karena dengan menduduki melayu, sriwijaya dapat menguasai Bandar-bandar di daerah selat malaka. Hal sama juga di lakukan ke daerah lain seperti, kota kapur ( Bangka ), bhumi jawa, serta palas dan jabung ( lampung ) ( ibid. bambang.hal 50 ).
Permukiman yang tertua berlokasi di daerah hilir Batanghari, sedangkan pemukiman yang muda berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Sumatra barat. Dalam sejarah Batanghari di wilayah ini pernah ada dua kerajaan besar yang berpengaruh di belahan barat Nusantara. Kedua kerajaan itu adalah Melayu dan Sriwijaya yang tumbuh berkembang pada waktu yang bersamaan dari berita tionghoa yang di tulis it-shing di sebutkan bahwa suatu saat ( sekitar tahun 670 an ) melayu pernah menjadi bagian sriwijaya ( groneveldt 1960 ) setelah sriwijaya melemah, melayu kemudian merdeka kembali.
Berdasarkan berita tionghoa tersebut, hasan jafar ( 1992:77 ) membagi melayu dalam tiga fase :
1. Fase awal, sekitar pertengahan abad ke 7 Masehi
2. Fase pendudukan oleh sriwijaya, sekitar tahun 680 sampai sekitar pertengahan abad ke-11 Masehi.
3. Fase akhir, sekitar pertengahan abad ke 11 –akhir abad ke14 Masehi.
Ketiga fase tersbut mengacu kepada perjalanan sejarah kerajaan melayu kuno, tetapi tidak menjelaskan lokasi pusat pemerintahannya.
Beberapa pakar berpendapat pusat kerajaan melayu fase awal berpusat di kota jambi sekarang ( slamet mulyana 1981:30-42 ; irfan 1983:94-102 ). Pendapat ini di dasarkan asumsi bahwa pusat kerajaan adalah juga pelabuhan melayu. Pelabuhan melayu yang berlokasi di tepi sungai Batanghari sangat lah baik untuk pelabuhann sungai dengan panjang 800 km, lebarnya 500 meter dan kedalamannya lebih dari 5 meter yang sangat baik untuk pelayaran sungai. ( ibid. bambang. Hal 49 )
Masa pendudukan sriwijaya ini agaknya berlangsung cukup lama, mulai dari abad ke 7 -11 masehi. Tetapi selama masa itu, ada juga masa dimana sriwijaya agak lengah . kesempatan itu di manfaatkan untuk mengirim duta besar ke tiongkok. Berdasarkan catatan tiongkok, mo-lo-yeu mengirim utusan ke tiongkok pada tahun 853 dan 871 masehi ( wolters: 1970-42 ). Namuntindakan ini di ketahui oleh sriwijaya. Oleh sebab itulah sriwijaya pada tahun 905 masehi mengirim duta ke tiongkok dan menegaskan bahwa duta yang dating pada tahun 853 dan 871 masehi adalah “ pemimpin dari chan-pi ( ibid. bambang,hal 52 ). Melayu merupakan sebuah kerajaan yang di anggap penting eksistensi kerajaan melayu selalu di akui oleh berbagi kerajaan. Sebab kerajaan besar di Nusantara akan selalu memperhitungkan keberadaan kerajaan melayu, seperti halnya sriwijaya dan majapahit.
Berdasarkan data prasasti dan pertanggalan situs di daerah Batanghari, kerajaan melayu sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemindahan pusat pemerintahan. Pusatnya yg pertama berlokasi di sekitar kota jambi sekarang, pusatnya yang kedua di padangroco, dan pusatnya yang ketiga terletak di pagaruyung. Para sarjan meduga pemindahan kerajaan itu di sebabkan oleh ancaman dari musuh, terutama musuh yang datng dari tanah jawa yang melalui sungai Batanghari. Sedangkan de casparis menduga melayu pada masa akhir mendapat ancaman dari kerajaan yang bercorak islam di samudrai pasai yang datang melalui sungai Batanghari ( ibid bambang hal 55 ).
Salah satu jenis peningkatan arkeologi yang tergolong ke dalam artefak bertulisan ialah prasasti. Sebagai sumber sejarah dan kebudayaan prasasti mempunyai kedudukan yang amat penting karena merupakan salah satu sumber keterangan yang sejaman. Dari masa kerajaan melayu kuno yang kronologinya dapat di tempatkan pada kurun waktu sekitar pertengahan abad ke-7 sampai abad ke-14. Telah ditemukan lebih dari 30 buah prasasti yang sebagian masuk dalam provinsi jambi, sebagian lagi masuk wilayah provinsi Sumatra barat, dan sebuah ditemukan di wilayah Malang, jawa timur yaitu prasasti Adityawarman yang di pahatkan di candi jago ( hasa jafar. Prasasti-prasasti masa kerajaan melayu kuno dan beberapa permasalahannya. Seminar sejarah melayu jambi. 6-8 desember 1992 ).
Berbicara tentang penamaan”kuno “ dalam istilah melayu kuno, seseorang dapat salah mengerti tentang arti sesungguhnya pemberian nama. Biasanya Moloyu ( melayu ) dan Sriwijaya di anggap sebagai kerajaan-kerajaan melayu kuno. Setelah jatuhnya kerajaan sriwijaya di abad ke-14 wilayah kerajaan-kerajaan melayu kuno mendapat berbagai cobaan dari bangsa penjaja dari luar, terutama dari bangsa ingris dan belanda. Hingga abad tahun 1824. Pada tahun ini oleh traktat London wilayah yang dihuni oleh pihak melayu di bagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara yang meliputi wilayah semenanjung melayu dan singgapura di kuasai oleh inggris dan pantai timur Sumatra serta riau lautan menjadi jajahan belanda ( S. Sartono. 7-8 desember 1992. Kerajaan melayu kuno pra-sriwijaya di Sumatra. Seminar sejarah melayu kuno. Kerja sama tingkat I provinsi jambi dengan kantor wilayah DEPDIKBUD provinsi Jambi).
Wilayah kerajaan melayu secara geografis terletak di sekitar daerah aliran sungai Batanghari yang meliputi provinsi jambi dan provinsi Sumatra barat, di sekitar kabupaten tanah datar ( Pagarruyung ) dan di sekitar aliran sungai rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah provinsi Sumatra barat dan provinsi Riau. Di beberapa tempat, di tepian sungai Batanghari banyak di temukan arkeologi, mulai dari daerah ilir ( di wilayah provinsi Jambi ) hingga daerah Hulu ( di wilayah provinsi Sumatra barat ) ( bambang budi utomo, 2010. Budha di nusantara. Buddhis center. Hal 48).
Menurut salah seorang penganut kepercayaan budha yang telah berkunjung ke situs peninggalan agama budha di dunia mengungkapkan, di wilayah jambi merupakan pusat pendidikan ajaran agama budha yang menjadikannya sebagai kampus terbesar di dunia. Kunjungannya ke Tibet dimana dia mendapatkan bahwa biksu perempuan ternama yang bernama Attisa pernah berkunjung ke kerajaan melayu pada abad ke 11 dari india ke Tibet hingga ke Indonesia yaitu Sumatra untuk menjadi pengajar atau guru dalam agama budha( Dr. Elizabet.dalam seminar jambi heritage ). Banyaknya di temukan candi-candi di muara jambi di akuinya itu sebagai tempat pelaksanaan pendidikan bukan tempat ajaran agama, karena menurutnya tidak mungkin di bangun tempat suci yang berdekatan bahkan ada yang beradap-adapan. ( biksu asal cina,chiaw-fo, perbincangan dalam perjalanan ke candi muara jambi,seminar jambi heritage).
Pada tahun 672 M, dalam perjalanannya dari kanton ke India, it-shing singgah di shih-li-fo-shih ( sriwijaya ) selama 6 bulan untuk belajar tatabahasa, bahasa sangsekerta sebelum melanjutkan pelayarannya ke cieh-cha ( kedah ) dan menuju ke nelada ( india ). Selanjutnya itsing menuliskan bahwa sekembalinya dari nelanda pada tahun 685 M ia singgah di mo-lo-yeu yang sekarang menjadi fo-she-to. Berita itsing ini sesuai dengan isi prasasti karangbirahi yang ditemukan di tepi sungai merangin anak Batanghari di daerah hulu, menyebutkan tentang persumpahan bagi yang tidak mau tunduk kepada kedatuan sriwijaya. Kedua data ini menginformasikan bahwa pada waktu itu melayu telah di taklukan oleh sriwijaya sampai sekitar abad ke-13 masehi. Pendudukan sriwijaya terhadap melayu di anggap penting karena dengan menduduki melayu, sriwijaya dapat menguasai Bandar-bandar di daerah selat malaka. Hal sama juga di lakukan ke daerah lain seperti, kota kapur ( Bangka ), bhumi jawa, serta palas dan jabung ( lampung ) ( ibid. bambang.hal 50 ).
Permukiman yang tertua berlokasi di daerah hilir Batanghari, sedangkan pemukiman yang muda berlokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Sumatra barat. Dalam sejarah Batanghari di wilayah ini pernah ada dua kerajaan besar yang berpengaruh di belahan barat Nusantara. Kedua kerajaan itu adalah Melayu dan Sriwijaya yang tumbuh berkembang pada waktu yang bersamaan dari berita tionghoa yang di tulis it-shing di sebutkan bahwa suatu saat ( sekitar tahun 670 an ) melayu pernah menjadi bagian sriwijaya ( groneveldt 1960 ) setelah sriwijaya melemah, melayu kemudian merdeka kembali.
Berdasarkan berita tionghoa tersebut, hasan jafar ( 1992:77 ) membagi melayu dalam tiga fase :
1. Fase awal, sekitar pertengahan abad ke 7 Masehi
2. Fase pendudukan oleh sriwijaya, sekitar tahun 680 sampai sekitar pertengahan abad ke-11 Masehi.
3. Fase akhir, sekitar pertengahan abad ke 11 –akhir abad ke14 Masehi.
Ketiga fase tersbut mengacu kepada perjalanan sejarah kerajaan melayu kuno, tetapi tidak menjelaskan lokasi pusat pemerintahannya.
Beberapa pakar berpendapat pusat kerajaan melayu fase awal berpusat di kota jambi sekarang ( slamet mulyana 1981:30-42 ; irfan 1983:94-102 ). Pendapat ini di dasarkan asumsi bahwa pusat kerajaan adalah juga pelabuhan melayu. Pelabuhan melayu yang berlokasi di tepi sungai Batanghari sangat lah baik untuk pelabuhann sungai dengan panjang 800 km, lebarnya 500 meter dan kedalamannya lebih dari 5 meter yang sangat baik untuk pelayaran sungai. ( ibid. bambang. Hal 49 )
Masa pendudukan sriwijaya ini agaknya berlangsung cukup lama, mulai dari abad ke 7 -11 masehi. Tetapi selama masa itu, ada juga masa dimana sriwijaya agak lengah . kesempatan itu di manfaatkan untuk mengirim duta besar ke tiongkok. Berdasarkan catatan tiongkok, mo-lo-yeu mengirim utusan ke tiongkok pada tahun 853 dan 871 masehi ( wolters: 1970-42 ). Namuntindakan ini di ketahui oleh sriwijaya. Oleh sebab itulah sriwijaya pada tahun 905 masehi mengirim duta ke tiongkok dan menegaskan bahwa duta yang dating pada tahun 853 dan 871 masehi adalah “ pemimpin dari chan-pi ( ibid. bambang,hal 52 ). Melayu merupakan sebuah kerajaan yang di anggap penting eksistensi kerajaan melayu selalu di akui oleh berbagi kerajaan. Sebab kerajaan besar di Nusantara akan selalu memperhitungkan keberadaan kerajaan melayu, seperti halnya sriwijaya dan majapahit.
Berdasarkan data prasasti dan pertanggalan situs di daerah Batanghari, kerajaan melayu sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemindahan pusat pemerintahan. Pusatnya yg pertama berlokasi di sekitar kota jambi sekarang, pusatnya yang kedua di padangroco, dan pusatnya yang ketiga terletak di pagaruyung. Para sarjan meduga pemindahan kerajaan itu di sebabkan oleh ancaman dari musuh, terutama musuh yang datng dari tanah jawa yang melalui sungai Batanghari. Sedangkan de casparis menduga melayu pada masa akhir mendapat ancaman dari kerajaan yang bercorak islam di samudrai pasai yang datang melalui sungai Batanghari ( ibid bambang hal 55 ).
Salah satu jenis peningkatan arkeologi yang tergolong ke dalam artefak bertulisan ialah prasasti. Sebagai sumber sejarah dan kebudayaan prasasti mempunyai kedudukan yang amat penting karena merupakan salah satu sumber keterangan yang sejaman. Dari masa kerajaan melayu kuno yang kronologinya dapat di tempatkan pada kurun waktu sekitar pertengahan abad ke-7 sampai abad ke-14. Telah ditemukan lebih dari 30 buah prasasti yang sebagian masuk dalam provinsi jambi, sebagian lagi masuk wilayah provinsi Sumatra barat, dan sebuah ditemukan di wilayah Malang, jawa timur yaitu prasasti Adityawarman yang di pahatkan di candi jago ( hasa jafar. Prasasti-prasasti masa kerajaan melayu kuno dan beberapa permasalahannya. Seminar sejarah melayu jambi. 6-8 desember 1992 ).
Jumat, 04 Maret 2011
Toelf & Sejarah
Salah satu sarat untuk menjadi Pegawai negri sipil Di dalam pemerintahan Provinsi Jambi khususnya guru harus mempunyai ijazah Toelf minimal 400 kata. Hal ini yang membuat masyarakat cendrung untuk beralih ke daerah-daerah yang mana tidak menggunakan ijazah Toflf. Bisa di ambil kesimpulan masyarakat calon Pegawai negri sipil provinsi jambi minim/tidak bisa berbahasa inggris.
Kalau di lihat dari peristiwa masa lalu ( sejarah ) kita akan bebalik bertanya, lebih enak di jajah inggris ap belanda ? beberapa orang meyesalkan kenapa Indonesia tidak di jajah oleh inggris, kalau kita di jajah inggris para CPNS tidak perlu takut dan ribet dengan yang namanya Toelf dan rencana kebijakan liberalisasi tenaga kerja yang membuka peluang persaingan bebas antara tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja asing.
Apa lagi dari Cerita para orang tua yang bekerja di perusahaan swata, para pekerja bule ini di gaji dengan upah yang tinggi di bandingkan pekerja Indonesia padahal belum tentu kemampuan dan kapabilitasnya lebih dari orang Indonesia bahkan ada yang lebih rendah dari orang Indonesia. Ya, hanya modal bahasa inggris karma memang sejak lahir menggunakan kata “yes-no” “yes-no”. garis sejarah sudah tertoreh, kita di jajah berabad-abad oleh Belanda. Menyedot pasir Indonesia dalam membuat kota-kota di belanda yang memiliki sebutan DAM.
Memang belanda menjajah Indonesia tapi semestinya masyarakat Indonesia paseh dalam berbahasa belanda. Ya, paling tidak seperti bahasa inggris yang di pakai di Negara bekas daerah koloninya india, dimana orang-orang desanya mereka bisa cas-cis-cus dalam berbahasa inggris ( karma memang lama di jajah inggris ). Nah disini yang harus jadi pertanyaannya.
Saat penjajahan jepang dimana jepang melarang penggunaan bahasa belanda di semua bidang, salah satunya di sector pendidikan, Memang ada alasan yang baik untuk keputusan itu: bahasa Indonesia harus diterima sebagai satu-satunya bahasa nasional, terlindung dari segala persaingan, dan pemerintah waktu itu berharap dapat keluar selamanya dari orbit Belanda.
Namun, para mahasiswa baru, yang jumlahnya justru meningkat sangat cepat, jadi terputus dari buku-buku pegangan yang tersedia, maupun dari seluruh pustaka ilmiah mengenai negerinya. Penggunaan bahasa Belanda tentu saja masih dipertahankan secara tidak resmi di kalangan mereka yang telah menyelesaikan studi sebelum tahun 1942, dan ada sekedar upaya untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menerbitkan pustaka Universitas yang diperlukan. Meski demikian, pemutusan itu tetap menimbulkan dampak sangat buruk. Kebijakan itu baru dihapuskan setelah tahun 1969, jadi hampir 25 tahun setelah kemerdekaan, dan pada saat bahasa Inggris sudah mengantikan bahasa Belanda sebagai bahasa asing pertama . Hanya satu yang di sayangkan adalah keterputusan intelektual, karena pada masa itu text-book yang dipakai masih banyak yang berbahasa Belanda.
Namun, apakah persoalan ini menjadi masalah serius dalam konteks keilmuan kontemporer? Saat ini yang menjadi lingua franca internasional adalah Bahasa Inggris. Bahasa Belanda, jangankan jadi bahasa ilmiah internasional, masuk bahasa resmi United Nation aja ngak (yang masuk bahasa resmi PBB yaitu, Inggris, Mandarin, Perancis, Rusia, Arab, Spanyol).
Jadi kita bisa mengucapkan syukur karena pada masa pelarangan pengajaran Bahasa Belanda, para ahli bahasa kita semakin memassifkan dan menguatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sehingga, sebagai bangsa yang besar kita bisa berbangga memiliki bahasa sendiri yang menjadi pemersatu di berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara.
Penjajah tetaplah penjajah, siapapun itu? Mau , Inggris, Belanda, Spanyol, Portugis, Perancis, semua tetap meninggalkan luka mendalam dalam alam bawah sadar historis bangsa terjajah. Meskipun upaya menghilangkan beban psikologis itu sudah dimulai sejak awal oleh founding father kita, tetap saja sampai saat ini “penyakit inlander” itu belum hilang dari memori bangsa Indonesia.
Salah satu sarat untuk menjadi Pegawai negri sipil Di dalam pemerintahan Provinsi Jambi khususnya guru harus mempunyai ijazah Toelf minimal 400 kata. Hal ini yang membuat masyarakat cendrung untuk beralih ke daerah-daerah yang mana tidak menggunakan ijazah Toflf. Bisa di ambil kesimpulan masyarakat calon Pegawai negri sipil provinsi jambi minim/tidak bisa berbahasa inggris.
Kalau di lihat dari peristiwa masa lalu ( sejarah ) kita akan bebalik bertanya, lebih enak di jajah inggris ap belanda ? beberapa orang meyesalkan kenapa Indonesia tidak di jajah oleh inggris, kalau kita di jajah inggris para CPNS tidak perlu takut dan ribet dengan yang namanya Toelf dan rencana kebijakan liberalisasi tenaga kerja yang membuka peluang persaingan bebas antara tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja asing.
Apa lagi dari Cerita para orang tua yang bekerja di perusahaan swata, para pekerja bule ini di gaji dengan upah yang tinggi di bandingkan pekerja Indonesia padahal belum tentu kemampuan dan kapabilitasnya lebih dari orang Indonesia bahkan ada yang lebih rendah dari orang Indonesia. Ya, hanya modal bahasa inggris karma memang sejak lahir menggunakan kata “yes-no” “yes-no”. garis sejarah sudah tertoreh, kita di jajah berabad-abad oleh Belanda. Menyedot pasir Indonesia dalam membuat kota-kota di belanda yang memiliki sebutan DAM.
Memang belanda menjajah Indonesia tapi semestinya masyarakat Indonesia paseh dalam berbahasa belanda. Ya, paling tidak seperti bahasa inggris yang di pakai di Negara bekas daerah koloninya india, dimana orang-orang desanya mereka bisa cas-cis-cus dalam berbahasa inggris ( karma memang lama di jajah inggris ). Nah disini yang harus jadi pertanyaannya.
Saat penjajahan jepang dimana jepang melarang penggunaan bahasa belanda di semua bidang, salah satunya di sector pendidikan, Memang ada alasan yang baik untuk keputusan itu: bahasa Indonesia harus diterima sebagai satu-satunya bahasa nasional, terlindung dari segala persaingan, dan pemerintah waktu itu berharap dapat keluar selamanya dari orbit Belanda.
Namun, para mahasiswa baru, yang jumlahnya justru meningkat sangat cepat, jadi terputus dari buku-buku pegangan yang tersedia, maupun dari seluruh pustaka ilmiah mengenai negerinya. Penggunaan bahasa Belanda tentu saja masih dipertahankan secara tidak resmi di kalangan mereka yang telah menyelesaikan studi sebelum tahun 1942, dan ada sekedar upaya untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menerbitkan pustaka Universitas yang diperlukan. Meski demikian, pemutusan itu tetap menimbulkan dampak sangat buruk. Kebijakan itu baru dihapuskan setelah tahun 1969, jadi hampir 25 tahun setelah kemerdekaan, dan pada saat bahasa Inggris sudah mengantikan bahasa Belanda sebagai bahasa asing pertama . Hanya satu yang di sayangkan adalah keterputusan intelektual, karena pada masa itu text-book yang dipakai masih banyak yang berbahasa Belanda.
Namun, apakah persoalan ini menjadi masalah serius dalam konteks keilmuan kontemporer? Saat ini yang menjadi lingua franca internasional adalah Bahasa Inggris. Bahasa Belanda, jangankan jadi bahasa ilmiah internasional, masuk bahasa resmi United Nation aja ngak (yang masuk bahasa resmi PBB yaitu, Inggris, Mandarin, Perancis, Rusia, Arab, Spanyol).
Jadi kita bisa mengucapkan syukur karena pada masa pelarangan pengajaran Bahasa Belanda, para ahli bahasa kita semakin memassifkan dan menguatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sehingga, sebagai bangsa yang besar kita bisa berbangga memiliki bahasa sendiri yang menjadi pemersatu di berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara.
Penjajah tetaplah penjajah, siapapun itu? Mau , Inggris, Belanda, Spanyol, Portugis, Perancis, semua tetap meninggalkan luka mendalam dalam alam bawah sadar historis bangsa terjajah. Meskipun upaya menghilangkan beban psikologis itu sudah dimulai sejak awal oleh founding father kita, tetap saja sampai saat ini “penyakit inlander” itu belum hilang dari memori bangsa Indonesia.
Tionghoa Pada Masa Demokrasi
Seperti kita ketahui setelah jatuhnya pemerintahan rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto yang sangat otoriter dan berlangsungnya reformasi serta berkembangnya demokrasi, posisi etnis Tionghoa di Indonesia semakin lama semakin baik. Nyaris seluruh undang-undang dan peraturan yang rasis dan diskriminatif peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan pemerintahan Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto telah berhasil dilikuidasi. Dimulai dengan dicabutnya seluruh larangan-larangan yang memojokkan etnis Tionghoa termasuk larangan melakukan ritual agama dan adat istiadat dan budaya Tionghoa secara terbuka serta larangan bahasa dan aksara Tionghoa oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Kemudian disusul keluarnya Keputusan Presiden Megawati yang menyatakan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional dan yang terakhir agama Khonghucu dikembalikan menjadi agama resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Dalam situasi yang semakin kondusif ini maka lahirlah berbagai organisasi-organisasi Tionghoa di Indonesia. Pertama organisasi-organisasi Tionghoa yang dibentuk oleh golongan peranakan. Ada yang berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Gerakan Anti Diskriminasi (GANDI), ada partai politik seperti Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI) dan Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI). Ada juga organisasi massa yang dibentuk oleh campuran golongan peranakan dan totok seperti Panguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Organisasi-organisasi ini ada yang masih bertahan, aktif bahkan berkembang tetapi ada juga yang sudah mengendur bahkan ada yang sudah nyaris mati. .
Setelah pemerintahan Soeharto tumbang berbagai hak orang cina atau orang tionghoa ini di kembalikan mereka di perkenankan merayakan berbagai kegiatan Kebudayaan dan keagamaan. Perjuangan orang cina dalam menegakan kedaulatan bangsa indonesi di bahas lagi. Dengan kata lain orang tionghoa atau orang cina ini bebas berekspresi.
Melihat apa yang terjadi di masa pemerintahan soeharto itu, marilah kita di masa demokrasi ini yang semuanya semakin baik, di harapkan saling mengevaluasi diri baik orang tionghoa maupun bumi putra, dan juga dalam tingkat kelompok atau masyarakat dan juga harus adanya saling keterbukaan dari hati yang menginginkan kehidupan yang harmonis di dalam masyarakat. Hal ini jaganlah semata mata terpokus ke pada suku pendatang dari cina saja tetapi bagi seluruh suku yang ada di Indonesia ini. Agar hubungan harmonis yang ada di dalam masyarakat indonesia secara umum dan di Jambi secara khusus dapat selalu terjalin denga baik.
Seperti kita ketahui setelah jatuhnya pemerintahan rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto yang sangat otoriter dan berlangsungnya reformasi serta berkembangnya demokrasi, posisi etnis Tionghoa di Indonesia semakin lama semakin baik. Nyaris seluruh undang-undang dan peraturan yang rasis dan diskriminatif peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan pemerintahan Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto telah berhasil dilikuidasi. Dimulai dengan dicabutnya seluruh larangan-larangan yang memojokkan etnis Tionghoa termasuk larangan melakukan ritual agama dan adat istiadat dan budaya Tionghoa secara terbuka serta larangan bahasa dan aksara Tionghoa oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Kemudian disusul keluarnya Keputusan Presiden Megawati yang menyatakan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional dan yang terakhir agama Khonghucu dikembalikan menjadi agama resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Dalam situasi yang semakin kondusif ini maka lahirlah berbagai organisasi-organisasi Tionghoa di Indonesia. Pertama organisasi-organisasi Tionghoa yang dibentuk oleh golongan peranakan. Ada yang berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Gerakan Anti Diskriminasi (GANDI), ada partai politik seperti Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI) dan Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI). Ada juga organisasi massa yang dibentuk oleh campuran golongan peranakan dan totok seperti Panguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Organisasi-organisasi ini ada yang masih bertahan, aktif bahkan berkembang tetapi ada juga yang sudah mengendur bahkan ada yang sudah nyaris mati. .
Setelah pemerintahan Soeharto tumbang berbagai hak orang cina atau orang tionghoa ini di kembalikan mereka di perkenankan merayakan berbagai kegiatan Kebudayaan dan keagamaan. Perjuangan orang cina dalam menegakan kedaulatan bangsa indonesi di bahas lagi. Dengan kata lain orang tionghoa atau orang cina ini bebas berekspresi.
Melihat apa yang terjadi di masa pemerintahan soeharto itu, marilah kita di masa demokrasi ini yang semuanya semakin baik, di harapkan saling mengevaluasi diri baik orang tionghoa maupun bumi putra, dan juga dalam tingkat kelompok atau masyarakat dan juga harus adanya saling keterbukaan dari hati yang menginginkan kehidupan yang harmonis di dalam masyarakat. Hal ini jaganlah semata mata terpokus ke pada suku pendatang dari cina saja tetapi bagi seluruh suku yang ada di Indonesia ini. Agar hubungan harmonis yang ada di dalam masyarakat indonesia secara umum dan di Jambi secara khusus dapat selalu terjalin denga baik.
2.2. Sejarah Masyarakat Tionghoa Di Jambi
Pantai timur Sumatera berada dalam posisi yang sangat menguntungkan dalam jalur pelayaran dan perdagangan di masa lampau ketika dunia pelayaran masih bergantung pada sistem angin muson yang berubah-ubah arah tujuannya setiap enam bulan. Di kawasan ini lalu lintas dari segala arah bertemu untuk menantikan angin yang cocok agar bisa melanjutkan perjalanannya. Tidaklah mengherankan jika pantai ini dianggap sebagai pantai niaga yang disenangi di kawasan barat Indonesia.
Kedudukan Jambi dalam hal ini tidak kalah dari tetangganya Palembang, Indragiri, Riau,dsb. Yang juga memanfaatkan posisi yang menguntungkan itu. Jadi disamping lokasi geografis yang menguntungkan, ada faktor-faktor lain yang ikut memainkan peranan sehingga yang satu ternyata lebih menonjol dari yang lain, sebagaimana telah dibuktikan oleh jalannya sejarah kawasan ini. ( Http://www.geogle.co.id. Matius. 2009 ).
Temuan arkeologi atau sejarah lainnya dapat dikatakan sedikit sekali itupun sudah memasuki abad IV melalui informasi dari berita – berita Cina terhadap utusan – utusan Melayu Chan-pi, Suwarnabhumi atau San-fo-tsi ( Http://www.geole.co.id. Junaidi T Noor. Cerita Perahu Kajang Luko. Di akses tgl 24 November 2009 ).
Kerajaan pada masa pra-Sriwijaya seperti Ge-ying dan Gan-tuo-li telah memanfaatkan lokasi yang menguntungkan ini dan merupakan bandar pelabuhan bagi pelayaran dan perdagangan masa awal. Para pakar memperkirakan bahwa lokasinya harus dicari di pantai timur Sumatera, walaupun belum dapat dipastikan dengan tepat apakah letaknya di Jambi atau di Palembang. Lain halnya dengan shi-li-fo-shi dan Mo-luo-you yang diberitakan oleh yi-jing pada abad VII yang masing-masing diidentifikasikan oleh para pakar sebagai Sriwijaya dan Melayu dan ditempatkan di Palembang dan Jambi. Dari berita Yi-jing itu diketahui bahwa Mo-luo-you telah menjadi Shi- li-fo-shi, dengan kata lain, Jambi telah masuk Sriwijaya walaupun ibukotanya masih berada di Palembang. Namun diperkirakan pula bahwa pusat kerajaan Sriwijaya dapat berpindah-pindah sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat tertentu. Misalnya, pada paro kedua dari abad XI para pakar memperkirakan bahwa ibukota Sriwijaya telah bertempat di Jambi.
Dalam perdagangan terbuka pada abad ke XIV, di mana bertalian erat dengan saling ketergantungannya antara perdagangan rempah-rempah, bahan makanan, dan komoditi lainya, seperti bahan pakaian, pecah belah, dan lain-lain. Cina melakukan hubungan dagang dengan Jambi yaitu lada. Jadi Jambi merupakan daerah yang sudah lama di kenal dengan bangsa Cina ( Sartono Kartodirdjo. 1987: 79 ). Jambi muncul sebagai pengekspor lada terbesar karena daerah pedalamanya sampai ke minangkabau adalah penghasil lada. Sehingga Portugis dan VOC tidak mengingginkan Jambi jatuh ke tangan Aceh yang pada saat itu Aceh menginginkan pelabuhan yang di miliki Jambi, karena Jambi merupakan pelabuhan Ekspor Lada dan pengimpor beras dan garam ( Sartono Katodirdjo. 1987 : 109-112 ).
Ini membuktikan bahwa pelayaran orang Cina ke daerah ini semakin banyak, dan mencerminkan pula keramaian pelayaran di kawasan ini yang semakin meningkat. Jika sebelumnya pelayaran Cina dan orang asing lainnya dihubungkan dengan perdagangan antara negeri Cina dengan India dan kawasan Asia barat-jadi kawasan ini hanya berperan sebagai tempat singgah dalam jalur sutera -, kini pengunjung asing itu sengaja berlayar kesini untuk berdagang, yakni mempertukarkan barang impor (kain sutera dan keramik dari Cina, tekstil dari India, dsb). Dengan hasil kepulauan Indonesia berupa rempah-rempah, kayu wangi, dll. Dengan kata lain jalur sutera telah melebur dengan jalur rempah-rempah. ( Http://www.geogle.co.id. Matius. Wikipedia Indonesia. 2009 ).
Jambi Yang merupakan daerah bagian sumatra yang posisinya sangat strategis dalam jalur lintas perdagangan pada zamannya. setiap kapal dagang yang ingin melakukan perdagangan secara otomatis pasti melintas di daerah kawasan jambi. Dan juga jambi merupakan daerah yang memiliki beberapa kerajaan besar dan kecil di antaranya. Melayu, zabah, kuntala, sebo, dll. Yang memiliki peranan di dalam daerah jambi pada zamannya. Apalagi kerajaan sriwijaya yang terkenal itu masih belum jelas keberadaannya apakah di Palembang atau di Jambi. Banyak bukti-bukti tertulis yang di temukan di palembang yang memperkuat bahwa kerajaan sriwijaya di palembang tetapi jambi juga mempunyai bukti-bukti yang berbentuk geografis dan peninggalan-peninggalan yang lainnya. Para bidsu dari tiongkok yang ingin memperdalam agama budhanya mereka memperdalam bahasa sangsekerta di sriwijaya untuk modal saat tiba di India. Jambi yang memiliki puluhan tempat beribadah bagi agama budha dan memiliki puluhan bahkan ratusan para bidsu yang dapat membantu atau mengajarkan agama dan bahasa sangsekerta. Dari dua hal tersebut sangatlah wajar kalau orang tionghoa pasti ada di jambi dan secara tidak langsung akan terdapat perkampungan orang tionghoa di jambi.
Namun demikian, hingga saat ini belum diketahui sejak kapan dan siapa orang Tionghoa pertama yang datang ke Jambi. Tetapi yang pasti, sejak zaman kekuasaan kerajaan Sriwijaya dan Melayu, penduduk Jambi telah menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Tionghoa. Pada waktu itu, orang-orang Tionghoa menempati daerah sekitar Sungai dan pantai sebagai tempat tinggal sekaligus tempat berdagang, hal itu disebabkan sungai menjadi jalur transportasi perdagangan.
Pemusatan pemukiman orang-orang Tionghoa memang pada awalnya terjadi karena kebiasaan mereka untuk selalu menempati daerah-daerah strategis sepanjang aliran sungai yang menjadi pusat perdagangan, hal ini karena orang Tionghoa sangat menyukai bidang bisnis atau berdagang ( Jambi Independent. 2009 : 14 ).
Ghetto, tempat kehidupan sehari-hari orang yahudi yang di pencilkan, dapat di bandingkan dengan pemukiman-pemukiman khusus yang di bangun oleh orang-orang tionghoa bagi mereka sendiri di banyak kota. Banyak orang, baik orang luar ataupun orang Indonesia itu sendiri, menggambarkan orang tionghoa sebagai kelompok daerah kota yang paling menonjol. Barangkali akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa golongan pribumi Indonesia yang ada di Kota Jambi itu lebih banyak terpusat di daerah pedesaan dan golongan penduduk tionghoa tampaknya merupakan penduduk kota dari apa yang sebenarnya ( Coppel,Charles. 1994 : 27 ).
Salah satu bukti sejarah Tionghoa yang ada di Kota Jambi ini adalah klenteng Siaw San Teng yang merupakan klenteng tertua dan terbesar di Provinsi Jambi yang terletak di daerah Kampung Manggis Kota Jambi.
Klenteng Siaw San Teng Sekarang
Klenteng ini didirikan pada tahun 1881 itu terlihat dari tulisan kaligrafi Cina kuno berisi pantun Cina yang hingga saat ini masih bertengger di dinding kelenteng.
Kaligrafi Cina Kuno
Yang betengger di dinding klenteng Siaw San Teng
Kaligrafi itu telah berumur sekitar 150 tahun. Memiliki banyak makna dan hanya dimengerti sebagian kecil warga Tionghoa. plakat itu didatangkan langsung dari daerah Tiongkok dan telah ada sejak kelenteng didirikan sekitar 1881. Jadi itu bukti sejarah Cina kuno yang masih disimpan dengan sangat baik di dalam kelenteng yang juga merupakan kelenteng terbesar di Kota Jambi itu. “Ini akan kita simpan dengan baik, tidak ada yang boleh membeli atau membawa pulang bukti sejarah ini. Meskipun tidak banyak yang mengetahui makna dan artinya, ini merupakan salah satu benda penting dan bersejarah yang hanya ada di kelenteng ini dan bukti bersejarah masyarakat tionghoa di kota Jambi secara umum. Menurut Apong, pengurus Kelenteng Siu San Teng, Satu huruf saja bisa memiliki banyak makna. Di Kota Jambi sendiri, hanya beberapa orang yang bisa mengerti arti tulisan itu. Saya saja tidak terlalu mengerti makna dari tulisan tersebut ( Http://www.geogle.co.id. Surya Elviza.Berumur 150 tahun, menjadi bukti sejarah. di akses tgl 15 November 2009 ). Didirikannya tempat beribadah ini adalah bukti bahwa pada tahun 1881 sudah banyak masyarakat tionghoa yang tinggal di kota Jambi ini.
Pantai timur Sumatera berada dalam posisi yang sangat menguntungkan dalam jalur pelayaran dan perdagangan di masa lampau ketika dunia pelayaran masih bergantung pada sistem angin muson yang berubah-ubah arah tujuannya setiap enam bulan. Di kawasan ini lalu lintas dari segala arah bertemu untuk menantikan angin yang cocok agar bisa melanjutkan perjalanannya. Tidaklah mengherankan jika pantai ini dianggap sebagai pantai niaga yang disenangi di kawasan barat Indonesia.
Kedudukan Jambi dalam hal ini tidak kalah dari tetangganya Palembang, Indragiri, Riau,dsb. Yang juga memanfaatkan posisi yang menguntungkan itu. Jadi disamping lokasi geografis yang menguntungkan, ada faktor-faktor lain yang ikut memainkan peranan sehingga yang satu ternyata lebih menonjol dari yang lain, sebagaimana telah dibuktikan oleh jalannya sejarah kawasan ini. ( Http://www.geogle.co.id. Matius. 2009 ).
Temuan arkeologi atau sejarah lainnya dapat dikatakan sedikit sekali itupun sudah memasuki abad IV melalui informasi dari berita – berita Cina terhadap utusan – utusan Melayu Chan-pi, Suwarnabhumi atau San-fo-tsi ( Http://www.geole.co.id. Junaidi T Noor. Cerita Perahu Kajang Luko. Di akses tgl 24 November 2009 ).
Kerajaan pada masa pra-Sriwijaya seperti Ge-ying dan Gan-tuo-li telah memanfaatkan lokasi yang menguntungkan ini dan merupakan bandar pelabuhan bagi pelayaran dan perdagangan masa awal. Para pakar memperkirakan bahwa lokasinya harus dicari di pantai timur Sumatera, walaupun belum dapat dipastikan dengan tepat apakah letaknya di Jambi atau di Palembang. Lain halnya dengan shi-li-fo-shi dan Mo-luo-you yang diberitakan oleh yi-jing pada abad VII yang masing-masing diidentifikasikan oleh para pakar sebagai Sriwijaya dan Melayu dan ditempatkan di Palembang dan Jambi. Dari berita Yi-jing itu diketahui bahwa Mo-luo-you telah menjadi Shi- li-fo-shi, dengan kata lain, Jambi telah masuk Sriwijaya walaupun ibukotanya masih berada di Palembang. Namun diperkirakan pula bahwa pusat kerajaan Sriwijaya dapat berpindah-pindah sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat tertentu. Misalnya, pada paro kedua dari abad XI para pakar memperkirakan bahwa ibukota Sriwijaya telah bertempat di Jambi.
Dalam perdagangan terbuka pada abad ke XIV, di mana bertalian erat dengan saling ketergantungannya antara perdagangan rempah-rempah, bahan makanan, dan komoditi lainya, seperti bahan pakaian, pecah belah, dan lain-lain. Cina melakukan hubungan dagang dengan Jambi yaitu lada. Jadi Jambi merupakan daerah yang sudah lama di kenal dengan bangsa Cina ( Sartono Kartodirdjo. 1987: 79 ). Jambi muncul sebagai pengekspor lada terbesar karena daerah pedalamanya sampai ke minangkabau adalah penghasil lada. Sehingga Portugis dan VOC tidak mengingginkan Jambi jatuh ke tangan Aceh yang pada saat itu Aceh menginginkan pelabuhan yang di miliki Jambi, karena Jambi merupakan pelabuhan Ekspor Lada dan pengimpor beras dan garam ( Sartono Katodirdjo. 1987 : 109-112 ).
Ini membuktikan bahwa pelayaran orang Cina ke daerah ini semakin banyak, dan mencerminkan pula keramaian pelayaran di kawasan ini yang semakin meningkat. Jika sebelumnya pelayaran Cina dan orang asing lainnya dihubungkan dengan perdagangan antara negeri Cina dengan India dan kawasan Asia barat-jadi kawasan ini hanya berperan sebagai tempat singgah dalam jalur sutera -, kini pengunjung asing itu sengaja berlayar kesini untuk berdagang, yakni mempertukarkan barang impor (kain sutera dan keramik dari Cina, tekstil dari India, dsb). Dengan hasil kepulauan Indonesia berupa rempah-rempah, kayu wangi, dll. Dengan kata lain jalur sutera telah melebur dengan jalur rempah-rempah. ( Http://www.geogle.co.id. Matius. Wikipedia Indonesia. 2009 ).
Jambi Yang merupakan daerah bagian sumatra yang posisinya sangat strategis dalam jalur lintas perdagangan pada zamannya. setiap kapal dagang yang ingin melakukan perdagangan secara otomatis pasti melintas di daerah kawasan jambi. Dan juga jambi merupakan daerah yang memiliki beberapa kerajaan besar dan kecil di antaranya. Melayu, zabah, kuntala, sebo, dll. Yang memiliki peranan di dalam daerah jambi pada zamannya. Apalagi kerajaan sriwijaya yang terkenal itu masih belum jelas keberadaannya apakah di Palembang atau di Jambi. Banyak bukti-bukti tertulis yang di temukan di palembang yang memperkuat bahwa kerajaan sriwijaya di palembang tetapi jambi juga mempunyai bukti-bukti yang berbentuk geografis dan peninggalan-peninggalan yang lainnya. Para bidsu dari tiongkok yang ingin memperdalam agama budhanya mereka memperdalam bahasa sangsekerta di sriwijaya untuk modal saat tiba di India. Jambi yang memiliki puluhan tempat beribadah bagi agama budha dan memiliki puluhan bahkan ratusan para bidsu yang dapat membantu atau mengajarkan agama dan bahasa sangsekerta. Dari dua hal tersebut sangatlah wajar kalau orang tionghoa pasti ada di jambi dan secara tidak langsung akan terdapat perkampungan orang tionghoa di jambi.
Namun demikian, hingga saat ini belum diketahui sejak kapan dan siapa orang Tionghoa pertama yang datang ke Jambi. Tetapi yang pasti, sejak zaman kekuasaan kerajaan Sriwijaya dan Melayu, penduduk Jambi telah menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Tionghoa. Pada waktu itu, orang-orang Tionghoa menempati daerah sekitar Sungai dan pantai sebagai tempat tinggal sekaligus tempat berdagang, hal itu disebabkan sungai menjadi jalur transportasi perdagangan.
Pemusatan pemukiman orang-orang Tionghoa memang pada awalnya terjadi karena kebiasaan mereka untuk selalu menempati daerah-daerah strategis sepanjang aliran sungai yang menjadi pusat perdagangan, hal ini karena orang Tionghoa sangat menyukai bidang bisnis atau berdagang ( Jambi Independent. 2009 : 14 ).
Ghetto, tempat kehidupan sehari-hari orang yahudi yang di pencilkan, dapat di bandingkan dengan pemukiman-pemukiman khusus yang di bangun oleh orang-orang tionghoa bagi mereka sendiri di banyak kota. Banyak orang, baik orang luar ataupun orang Indonesia itu sendiri, menggambarkan orang tionghoa sebagai kelompok daerah kota yang paling menonjol. Barangkali akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa golongan pribumi Indonesia yang ada di Kota Jambi itu lebih banyak terpusat di daerah pedesaan dan golongan penduduk tionghoa tampaknya merupakan penduduk kota dari apa yang sebenarnya ( Coppel,Charles. 1994 : 27 ).
Salah satu bukti sejarah Tionghoa yang ada di Kota Jambi ini adalah klenteng Siaw San Teng yang merupakan klenteng tertua dan terbesar di Provinsi Jambi yang terletak di daerah Kampung Manggis Kota Jambi.
Klenteng Siaw San Teng Sekarang
Klenteng ini didirikan pada tahun 1881 itu terlihat dari tulisan kaligrafi Cina kuno berisi pantun Cina yang hingga saat ini masih bertengger di dinding kelenteng.
Kaligrafi Cina Kuno
Yang betengger di dinding klenteng Siaw San Teng
Kaligrafi itu telah berumur sekitar 150 tahun. Memiliki banyak makna dan hanya dimengerti sebagian kecil warga Tionghoa. plakat itu didatangkan langsung dari daerah Tiongkok dan telah ada sejak kelenteng didirikan sekitar 1881. Jadi itu bukti sejarah Cina kuno yang masih disimpan dengan sangat baik di dalam kelenteng yang juga merupakan kelenteng terbesar di Kota Jambi itu. “Ini akan kita simpan dengan baik, tidak ada yang boleh membeli atau membawa pulang bukti sejarah ini. Meskipun tidak banyak yang mengetahui makna dan artinya, ini merupakan salah satu benda penting dan bersejarah yang hanya ada di kelenteng ini dan bukti bersejarah masyarakat tionghoa di kota Jambi secara umum. Menurut Apong, pengurus Kelenteng Siu San Teng, Satu huruf saja bisa memiliki banyak makna. Di Kota Jambi sendiri, hanya beberapa orang yang bisa mengerti arti tulisan itu. Saya saja tidak terlalu mengerti makna dari tulisan tersebut ( Http://www.geogle.co.id. Surya Elviza.Berumur 150 tahun, menjadi bukti sejarah. di akses tgl 15 November 2009 ). Didirikannya tempat beribadah ini adalah bukti bahwa pada tahun 1881 sudah banyak masyarakat tionghoa yang tinggal di kota Jambi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)